Matahari Merah

By Galindra Sisoka - Juni 12, 2021

 

Laki-laki dan perempuan itu duduk berhadapan di sebuah akar pohon tua yang menancap di tanah dengan kokoh. Mata remaja perempuan berumur sembilan belas tahun itu mengabsen ujung kepala sampai ujung kaki anak laki-laki di hadapannya. Anak laki-laki itu berkulit cerah, bertubuh tinggi dan ramping. Matanya sehitam jelaga dan sorotnya yang tajam menambah keindahan wajahnya.

Entah sejak kapan, namun di puncak gunung itu, selama satu bulan sekali, mereka selalu dipertemukan oleh kebetulan. Kebetulan mungkin terdengar tak masuk akal untuk menggambarkan keadaaan mereka saat ini. Setiap bulan, mereka bertemu di puncak gunung yang berada di Kawasan Kampung Rawa Gede, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Ini adalah pertemuan ke empat mereka. 

“Jadi, kamu ke sini lagi ?” Si perempuan bertanya seraya menguncir rambut panjangnya.

Si anak laki-laki mengangguk. Tetap diam di akar pohon yang menopang tubuhnya.

“Ngapain ke sini setiap bulan ?” Desak si perempuan.

“Mencari sesuatu…” kalimatnya terdengar ragu.

“Apa ?”

“Nggak bisa aku kasih tahu.”

“Kenapa ?”

Si anak laki-laki menghela napas dalam. Merasa lelah meladeni rasa ingin tahu si perempuan yang sebesar bongkahan es yang menenggelamkan kapal Titanic.

“Kamu aneh.” Ucap si perempuan santai.

“Aku aneh ?” Si anak laki-laki menunjuk hidungnya sendiri.

“Iya.”

“Kalo aku aneh, kamu apaan ? Setiap bulan, di tanggal yang sama selalu main ke puncak gunung. Duduk sendirian di akar pohon ini sambal baca buku. Introvert ya ? Nggak punya teman pasti.” Itu adalah kalimat terbanyak yang pernah dilontarkan oleh si anak laki-laki sepanjang karir obrolannya bersama si perempuan.

“Sembarangan !” Si perempuan melempar sejumput rumput kering yang dia cabut dari tanah di sebelah kakinya.

Anak laki-laki itu menangkis serangan rumput kering dari si perempuan seraya tertawa. Sederet gigi putih dan senyum cerah yang menyembul keluar dari balik wajah murungnya, berhasil menyedot perhatian gadis itu.

“Bisa ketawa juga ternyata.” Si perempuan harus mengatur intonasi suaranya karena dadanya menggembung tak karuan menahan perasaan bahagia.

Satu detik kemudian, senyum hilang dari wajah anak laki-laki itu. Mimik wajahnya kembali serius dan misterius.

“Kamu ngapain setiap bulan selalu ke sini ?” Anak laki-laki itu bertanya.

“Ikut ayah aku meneliti pohon sama tanah.”

“Ngapain pohon sama tanah diteliti ?” Anak laki-laki itu mengernyit heran.

“Soalnya ayah aku dosen biologi. Jadi, dia haus akan ilmu tentang makhluk hidup selain manusia. Kata ayah, sebagai sesama makhluk hidup, kita nggak boleh egois. Harus saling memberi ruang bagi makhluk hidup lain untuk tumbuh dan berkembang.”

“Terus, apa hubungannya dengan meneliti tanah dan tumbuhan ?” Cecar si anak laki-laki.

“Ya diteliti aja, dibawa pulang sedikit ke rumah dan diamati pakai mikroskop di  ruangan kerja ayah. Tujuan pasti ayah aku nggak tahu, tapi aku tahu kalau ayah senang saat melakukan hal itu.”

Si anak laki-laki mengangguk-angguk sambil melipat tangan di dada.

“Kamu sendiri ? Ngapain di sini ?” Si perempuan mendekatkan wajahnya ke anak laki-laki di hadapannya.

Si anak laki-laki itu bisa mencium aroma parfum yang biasa dipakai bayi. Lembut dan menyegarkan. Wajah perempuan yang baru empat kali ditemuinya itu sangat menawan jika dilihat dari jarak dekat. Dia baru menyadari bahwa anak perempuan itu memiliki hidung menjulang dengan postur yang bagus bak aktris Hollywood.

“Ehmm… Mencari sesuatu.” Jawab si anak laki-laki gugup.

“Apa ?”

“Nanti juga kamu tahu.”

Perempuan itu mundur teratur dan kembali duduk di akar pohon yang menjadi tempat duduknya selama dua jam belakangan.

“Nggak usah sok misterius deh.” Sekarang si perempuan yang melipat tangan di dada. Bedanya, dia merasa kesal dan gemas bukan kepalang. Merasa tak puas dengan jawaban lawan bicaranya.

“Nama kamu siapa ?” Anak laki-laki itu bertanya tanpa dosa. Setelah pertemuan mereka yang ke empat dan selalu ngobrol ngalor ngidul, dari selatan ke utara, dari Ka’bah ke tembok ratapan selama berjam-jam, mereka masih belum bertukar nama.

Si anak perempuan baru akan membuka mulutnya untuk protes, namun suara pria setengah baya mengurungkan niatnya.

“Senja ! Ayo pulang ! Ayah sudah selesai !” Dari kejauhan, ayahnya melambaikan tangan menyuruhnya untuk turun gunung.

“Aku harus pulang. Bulan depan ketemu lagi ?” Tanya Senja setengah berharap. Akhirnya dia memiliki nama.

“Pastinya.” Senyum merekah dari bibir anak laki-laki itu.

 Senja berdiri seraya membersihkan celananya yang kotor oleh tanah, berbalik badan dan siap-siap melangkahkan kaki untuk meninggalkan puncak gunung.

“Terima kasih ya, Senja.” Suara anak laki-laki itu membuat Senja kembali menengok ke belakang, dia membalas senyum kedua paling indah yang pernah dia jumpai. Posisi pertama tentu masih ditempati oleh ayahnya.

 

Belum pernah Senja segelisah ini menanti waktu bergulir. Dia ingin cepat kembali ke puncak gunung dan bertemu si anak laki-laki yang telah mampu mengobrak-abrik isi hatinya sebelum dia mengetahui namanya. Gadis itu tenggelam dalam bayangan akan senyuman dan sorot mata tajam laki-laki yang baru empat kali ditemuinya. Dia ingin memiliki kekuatan super untuk membelokkan waktu sampai pada pertemuannya dengan anak laki-laki itu dan setelah mereka bertemu lalu menghabiskan waktu bersama, dia berniat untuk membekukan waktu, selamanya.

Hari yang dinanti pun tiba. Hari dimana Senja dan ayahnya naik ke puncak gunung untuk memuaskan hobi dan obsesi ayahnya akan tumbuhan dan tanah.

Hari ini Senja berbusana lebih rapi dari biasanya. Dia memakai T-shirt berwarna putih yang dia padankan dengan legging berwarna hitam dan satu potong mini skirt bercorak polkadot. Dia kenakan sneakers Converse high chuck miliknya yang dia dapatkan dari ayahnya pada ulang tahun ke delapan belas. Urusan panjat memanjat gunung bukan merupakan hal besar bagi Senja. Sejak kecil, kakinya sudah terbiasa menapaki tanah dan bebatuan. Ayahnya selalu mengajak dia menjelajahi hutan dan gunung demi memenuhi hasrat akan makhluk hidup selain manusia.

Sesampainya di puncak, setelah ayahnya berpisah darinya untuk mengunjungi hutan bagian barat, Senja duduk manis di akar pohon tempat biasa dia menghabiskan waktu dengan anak laki-laki pujaan hatinya. Satu menit, dua menit dan berubah menjadi tiga puluh menit lalu satu jam, namun Senja belum menemukan sosok anak laki-laki itu. Merasa kesal, dia bangkit dari duduk dan mengibaskan roknya dengan kasar.

“Kemana sih dia ?!”

Di tengah kekalutan hatinya yang kian membuncah, dari kejauhan terdengar langkah kaki serta suara obrolan yang tumpang tindih. Senja baru sadar bahwa hari ini adalah akhir pekan. Itu berarti, akan ada banyak pengunjung yang ingin mendirikan tenda dan berkemah di puncak gunung. Dengan gerakan anggun, Senja kembali duduk di akar pohon dan membuka bukunya. Dia mulai membaca dengan fokus tanpa mempedulikan para pengunjung dengan napas terengah yang membawa tas carrier besar di punggung mereka. Beberapa dari mereka mendaratkan perhatiannya kepada Senja. Bukan hanya gaya berbusana Senja yang sangat kontradiktif dengan suasana di puncak gunung, namun juga karena wajah ayu-nya yang membuat siapa pun berdecak kagum saat melihatnya.

“Eh lo tahu nggak, gosipnya di sini ada yang bunuh diri.” Salah seorang pendaki berbicara pada temannya di sela-sela mendirikan tenda.

“Nggak tahu. Lo jangan nakut-nakutin ah.” Temannya menimpali.

“Beneran, gue nggak bohong. Masuk berita kok.”

“Gimana kronologisnya ?” Salah satu teman mereka yang duduk tidak jauh datang menghampiri karena ingin mendengar cerita dari temannya.

“Jadi, beberapa bulan yang lalu, ada beberapa orang dari mahasiswa pecinta alam kampus X yang mau camping di sini. Tiba-tiba saat tengah malam, salah satu anggotanya hilang. Besok paginya, mereka cari teman mereka yang hilang itu, tapi anak laki-laki itu sudah ditemukan tewas gantung diri di salah satu pohon di puncak ini.”

“Oh iya, gue baca tuh beritanya. Padahal ganteng loh orangnya. Gue dapat Instagram-nya dari teman gue.”

Kabar yang datang dari orang asing itu menghantam Senja bagai petir yang merobek langit dan menghanguskan dunianya. Secepat kilat, Senja bangkit dan berjalan menghampiri kerumunan mahasiswa pecinta alam yang sedang fokus pada ponsel pintar  di tangan salah satu dari mereka. Senja menyeruak ke dalam kerumunan dan ikut melihat foto yang tengah dipertontonkan bak pertunjukan sirkus.

Lututnya seketika kehilangan daya untuk menopang tubuhnya. Senja ambruk bersamaan dengan tatapan aneh para pendaki asing. Tanpa mempedulikan apa pun, Senja roboh bagai pohon yang dihantam angin puting beliung. Air mata meleleh dan membasahi kedua pipinya dengan tak sabar. Tangisnya pecah melihat sosok anak laki-laki dari dalam ponsel pintar yang selama empat bulan belakangan ini mendistraksi perhatiannya dari hidup yang membosankan tanpa cinta.

Anak laki-laki itu sudah meninggal.

Anak laki-laki itu bukan sebulan sekali berkunjung ke puncak gunung, melainkan dia tinggal di sana. Dia ada di sana setiap saat. Dan Senja mampu melihat bahkan bercengkrama dengan sosoknya yang mungkin hanyalah arwah.

Merasa bingung, para pendaki asing itu menenangkan Senja dan memberinya minum. Setelah merasa lebih tenang dan meminum air pemberian mereka, Senja memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu dari pendaki asing. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Bayu.

“Kalau nggak keberatan, boleh saya lihat Instagram-nya anak laki-laki tadi ?” Senja bertanya dengan sopan. Senja bukan tipe orang yang betah memandangi layar ponsel berjam-jam dan membawanya kemana-mana setiap saat seperti yang dilakukan oleh manusia milenial zaman sekarang, ponselnya tergeletak dengan pasrah di meja belajar dan jarang disentuh. Dibuka hanya untuk keperluan tugas dari dosennya di kampus.

“iya silakan.” Bayu mengoper ponselnya kepada Senja.

Lamat-lamat Senja memperhatikan satu demi satu foto yang ada di feed milik anak laki-laki yang menjadi temannya selama empat bulan belakangan ini, tatapannya tertumbuk pada tulisan paling atas yang mendeskripsikan nama dari pengguna akun tersebut.

ARKAREGA SAMANTA

Akhirnya dia memiliki nama. Arkarega Samanta.

Nama itu akan selalu Senja kenang di pikiran serta hatinya.

Di feed Instagram-nya, Arka membagikan fotonya yang sedang berada di padang bunga Edelweiss. Dia berada di gunung ini.  Sepertinya itu adalah foto terakhir yang sengaja dia bagikan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Pada deskripsi foto, Arka menuliskan sebuah tulisan yang dia tulis menggunakan Bahasa asing. Senja menekan kata terjemahkan di ujung paling bawah deskripsi.

 

Sampaikan pada ibuku bunga keabadian, Edelweiss.

Sampaikan kepadanya bahwa semua ini bukanlah salahnya.

Petik satu Edelweiss dan berikan kepada ibuku.

Petik hati ibuku dan katakan bahwa aku merasa terhormat dilahirkan oleh ibu sepertinya.

Aku hanya Lelah berada di tengah-tengah keluarga yang pecah.

Aku lelah dan menyerah.

Ini bukan salahmu atau ayah, aku yang lemah.

Anakmu, Arkarega Samanta.

 

Senja mengembalikan ponsel pintar itu kepada pemiliknya dengan air mata yang menetes tanpa mampu dia hentikan. Semuanya terasa tak nyata dan seperti mimpi. Selama empat bulan dia hanya bermimpi dan hari ini dia terbangun dari mimpi indahnya. Setelah berterima kasih kepada Bayu, Senja berdiri dan menghampiri ayahnya, dia ingin memetik bunga Edelweiss satu tangkai saja, namun ayahnya tidak setuju. Di alam, kita tak boleh mengambil apa pun kecuali foto. Setelah perdebatan yang cukup sengit aantara ayah dan anak, mata Senja tertuju pada satu tangkai Edelweiss yang  terkapar tak berdaya di bawah sebuah pohon besar. Dengan tergesa-gesa Senja berlari menghampiri bunga itu dan mengambilnya. Dia memasukkan bunga itu ke dalam tas ranselnya tanpa sepengetahuan ayahnya.

Keesokan harinya, dengan bermodalkan akun Instagram milik Arkarega, Senja mencari tahu alamat rumah Arka melalui teman-teman yang sering membubuhkan komentar pada setiap postingan fotonya. Melalui followers serta following-nya.  Setelaah bertanya dan menjelaskan maksud serta tujuan Senja ingin mengunjungi rumah Arka, ada satu orang teman Arka yang berbaik hati menunjukkan alamat rumah Arka. Tanpa menunggu lagi, Senja meluncur ke daerah Jakarta Selatan, tempat dimana ibu dari Arkarega bersemayam.

Sangat bisa dipastikan bahwa ibu Arka akan menangis sejadinya saat menerima surat yang sudah ditulis tangan oleh Senja. Gadis itu menyadur unggahan foto terakhir Arka beserta deskripsinya. Tidak lupa dia memberikan setangkai Edelweiss yang hampir layu untuk ibu Arka.

“Aku memberinya nama Arkarega, yang artinya matahari merah.” Ujar ibu Arka seraya mengelus permukaan kertas yang berisi tulisan terakhir dari anaknya.

Merasa takjub, Senja baru mengetahui arti nama Arkarega adalah matahari merah. Senja memasang telinganya dengan baik dan terus mendengarkan cerita ibu Arka dan masalah apa yang terjadi pada keluarganya sampai mengakibatkan Arka memilih untuk mengakhiri hidupnya. Sejak Arka kecil, ayah dan ibunya tak pernah akur. Arka tumbuh dengan cacian dan makian serta barang-barang beterbangan di seluruh penjuru rumah. Rupanya hal itu menjadikan mentalnya sakit dan menorehkan trauma yang cukup dalam pada kehidupan dewasanya. Maka dari itu, dia memiliki kesulitan dalam bersosialisasi dengan orang lain. Temannya sangat sedikit dan bisa dihitung jari. Saat masuk kuliah, Arka mulai mendapat bebrapa teman baru yang menyenangkan, dia bahkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Mahasiswa Pecinta Alam di kampusnya. Hal itu membuat ibu Arka merasa lega karena anaknya mulai membuka diri. Ternyata perkiraannya meleset, Arka bukan membaik, semuanya hanya topeng yang dikenakan untuk menyembunyikan keterpurukannya dalam trauma dan depresi.

Bersamaan dengan Edelweiss yang telah layu, satu nama ikut terukir dalam keabadian. Sesuai dengan namanya, Edelweiss, bunga keabadian, yang di dalamnya terkandung hormon etilen yang berfungsi agar bunganya tidak bisa gugur. Mungkin kamu tak memiliki hormon etilen di dalam aliran darahmu, namun kebersamaan kita yang sangat singkat telah mengajarkanku banyak hal. Sama halnya seperti Edelweiss yang pantang dipetik, melupakanmu juga pantangan terbesar dalam hidupku.

Terima kasih sang matahari merah, Senja.



Cerpen ini ditulis di Depok, 12 Juni 2021

 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar