Laki-laki dan perempuan itu duduk berhadapan di sebuah akar pohon tua yang menancap di tanah dengan kokoh. Mata remaja perempuan berumur sembilan belas tahun itu mengabsen ujung kepala sampai ujung kaki anak laki-laki di hadapannya. Anak laki-laki itu berkulit cerah, bertubuh tinggi dan ramping. Matanya sehitam jelaga dan sorotnya yang tajam menambah keindahan wajahnya.
Entah sejak kapan, namun di puncak gunung itu,
selama satu bulan sekali, mereka selalu dipertemukan oleh kebetulan. Kebetulan mungkin
terdengar tak masuk akal untuk menggambarkan keadaaan mereka saat ini. Setiap
bulan, mereka bertemu di puncak gunung yang berada di Kawasan Kampung Rawa
Gede, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Ini adalah pertemuan
ke empat mereka.
“Jadi, kamu ke sini lagi ?” Si perempuan
bertanya seraya menguncir rambut panjangnya.
Si anak laki-laki mengangguk. Tetap diam di
akar pohon yang menopang tubuhnya.
“Ngapain ke sini setiap bulan ?” Desak si
perempuan.
“Mencari sesuatu…” kalimatnya terdengar ragu.
“Apa ?”
“Nggak bisa aku kasih tahu.”
“Kenapa ?”
Si anak laki-laki menghela napas dalam. Merasa
lelah meladeni rasa ingin tahu si perempuan yang sebesar bongkahan es yang
menenggelamkan kapal Titanic.
“Kamu aneh.” Ucap si perempuan santai.
“Aku aneh ?” Si anak laki-laki menunjuk
hidungnya sendiri.
“Iya.”
“Kalo aku aneh, kamu apaan ? Setiap bulan, di
tanggal yang sama selalu main ke puncak gunung. Duduk sendirian di akar pohon ini
sambal baca buku. Introvert ya ? Nggak punya teman pasti.” Itu adalah kalimat
terbanyak yang pernah dilontarkan oleh si anak laki-laki sepanjang karir
obrolannya bersama si perempuan.
“Sembarangan !” Si perempuan melempar sejumput
rumput kering yang dia cabut dari tanah di sebelah kakinya.
Anak laki-laki itu menangkis serangan rumput kering
dari si perempuan seraya tertawa. Sederet gigi putih dan senyum cerah yang
menyembul keluar dari balik wajah murungnya, berhasil menyedot perhatian gadis
itu.
“Bisa ketawa juga ternyata.” Si perempuan
harus mengatur intonasi suaranya karena dadanya menggembung tak karuan menahan
perasaan bahagia.
Satu detik kemudian, senyum hilang dari wajah
anak laki-laki itu. Mimik wajahnya kembali serius dan misterius.
“Kamu ngapain setiap bulan selalu ke sini ?” Anak
laki-laki itu bertanya.
“Ikut ayah aku meneliti pohon sama tanah.”
“Ngapain pohon sama tanah diteliti ?” Anak
laki-laki itu mengernyit heran.
“Soalnya ayah aku dosen biologi. Jadi, dia
haus akan ilmu tentang makhluk hidup selain manusia. Kata ayah, sebagai sesama makhluk
hidup, kita nggak boleh egois. Harus saling memberi ruang bagi makhluk hidup lain
untuk tumbuh dan berkembang.”
“Terus, apa hubungannya dengan meneliti tanah
dan tumbuhan ?” Cecar si anak laki-laki.
“Ya diteliti aja, dibawa pulang sedikit ke
rumah dan diamati pakai mikroskop di
ruangan kerja ayah. Tujuan pasti ayah aku nggak tahu, tapi aku tahu kalau
ayah senang saat melakukan hal itu.”
Si anak laki-laki mengangguk-angguk sambil melipat
tangan di dada.
“Kamu sendiri ? Ngapain di sini ?” Si
perempuan mendekatkan wajahnya ke anak laki-laki di hadapannya.
Si anak laki-laki itu bisa mencium aroma
parfum yang biasa dipakai bayi. Lembut dan menyegarkan. Wajah perempuan yang
baru empat kali ditemuinya itu sangat menawan jika dilihat dari jarak dekat. Dia
baru menyadari bahwa anak perempuan itu memiliki hidung menjulang dengan postur
yang bagus bak aktris Hollywood.
“Ehmm… Mencari sesuatu.” Jawab si anak
laki-laki gugup.
“Apa ?”
“Nanti juga kamu tahu.”
Perempuan itu mundur teratur dan kembali duduk
di akar pohon yang menjadi tempat duduknya selama dua jam belakangan.
“Nggak usah sok misterius deh.” Sekarang si
perempuan yang melipat tangan di dada. Bedanya, dia merasa kesal dan gemas
bukan kepalang. Merasa tak puas dengan jawaban lawan bicaranya.
“Nama kamu siapa ?” Anak laki-laki itu
bertanya tanpa dosa. Setelah pertemuan mereka yang ke empat dan selalu ngobrol
ngalor ngidul, dari selatan ke utara, dari Ka’bah ke tembok ratapan selama berjam-jam,
mereka masih belum bertukar nama.
Si anak perempuan baru akan membuka mulutnya
untuk protes, namun suara pria setengah baya mengurungkan niatnya.
“Senja ! Ayo pulang ! Ayah sudah selesai !”
Dari kejauhan, ayahnya melambaikan tangan menyuruhnya untuk turun gunung.
“Aku harus pulang. Bulan depan ketemu lagi ?”
Tanya Senja setengah berharap. Akhirnya dia memiliki nama.
“Pastinya.” Senyum merekah dari bibir anak
laki-laki itu.
Senja berdiri
seraya membersihkan celananya yang kotor oleh tanah, berbalik badan dan
siap-siap melangkahkan kaki untuk meninggalkan puncak gunung.
“Terima kasih ya, Senja.” Suara anak laki-laki
itu membuat Senja kembali menengok ke belakang, dia membalas senyum kedua paling
indah yang pernah dia jumpai. Posisi pertama tentu masih ditempati oleh
ayahnya.
Belum pernah Senja segelisah ini menanti waktu
bergulir. Dia ingin cepat kembali ke puncak gunung dan bertemu si anak
laki-laki yang telah mampu mengobrak-abrik isi hatinya sebelum dia mengetahui namanya.
Gadis itu tenggelam dalam bayangan akan senyuman dan sorot mata tajam laki-laki
yang baru empat kali ditemuinya. Dia ingin memiliki kekuatan super untuk membelokkan
waktu sampai pada pertemuannya dengan anak laki-laki itu dan setelah mereka
bertemu lalu menghabiskan waktu bersama, dia berniat untuk membekukan waktu, selamanya.
Hari yang dinanti pun tiba. Hari dimana Senja
dan ayahnya naik ke puncak gunung untuk memuaskan hobi dan obsesi ayahnya akan
tumbuhan dan tanah.
Hari ini Senja berbusana lebih rapi dari
biasanya. Dia memakai T-shirt berwarna putih yang dia padankan dengan legging
berwarna hitam dan satu potong mini skirt bercorak polkadot. Dia kenakan
sneakers Converse high chuck miliknya yang dia dapatkan dari ayahnya
pada ulang tahun ke delapan belas. Urusan panjat memanjat gunung bukan
merupakan hal besar bagi Senja. Sejak kecil, kakinya sudah terbiasa menapaki
tanah dan bebatuan. Ayahnya selalu mengajak dia menjelajahi hutan dan gunung demi
memenuhi hasrat akan makhluk hidup selain manusia.
Sesampainya di puncak, setelah ayahnya
berpisah darinya untuk mengunjungi hutan bagian barat, Senja duduk manis di
akar pohon tempat biasa dia menghabiskan waktu dengan anak laki-laki pujaan
hatinya. Satu menit, dua menit dan berubah menjadi tiga puluh menit lalu satu
jam, namun Senja belum menemukan sosok anak laki-laki itu. Merasa kesal, dia
bangkit dari duduk dan mengibaskan roknya dengan kasar.
“Kemana sih dia ?!”
Di tengah kekalutan hatinya yang kian membuncah,
dari kejauhan terdengar langkah kaki serta suara obrolan yang tumpang tindih.
Senja baru sadar bahwa hari ini adalah akhir pekan. Itu berarti, akan ada banyak
pengunjung yang ingin mendirikan tenda dan berkemah di puncak gunung. Dengan gerakan
anggun, Senja kembali duduk di akar pohon dan membuka bukunya. Dia mulai membaca
dengan fokus tanpa mempedulikan para pengunjung dengan napas terengah yang
membawa tas carrier besar di punggung mereka. Beberapa dari mereka mendaratkan
perhatiannya kepada Senja. Bukan hanya gaya berbusana Senja yang sangat
kontradiktif dengan suasana di puncak gunung, namun juga karena wajah ayu-nya
yang membuat siapa pun berdecak kagum saat melihatnya.
“Eh lo tahu nggak, gosipnya di sini ada yang
bunuh diri.” Salah seorang pendaki berbicara pada temannya di sela-sela
mendirikan tenda.
“Nggak tahu. Lo jangan nakut-nakutin ah.” Temannya
menimpali.
“Beneran, gue nggak bohong. Masuk berita kok.”
“Gimana kronologisnya ?” Salah satu teman
mereka yang duduk tidak jauh datang menghampiri karena ingin mendengar cerita
dari temannya.
“Jadi, beberapa bulan yang lalu, ada beberapa orang
dari mahasiswa pecinta alam kampus X yang mau camping di sini. Tiba-tiba
saat tengah malam, salah satu anggotanya hilang. Besok paginya, mereka cari
teman mereka yang hilang itu, tapi anak laki-laki itu sudah ditemukan tewas gantung
diri di salah satu pohon di puncak ini.”
“Oh iya, gue baca tuh beritanya. Padahal ganteng
loh orangnya. Gue dapat Instagram-nya dari teman gue.”
Kabar yang datang dari orang asing itu
menghantam Senja bagai petir yang merobek langit dan menghanguskan dunianya. Secepat
kilat, Senja bangkit dan berjalan menghampiri kerumunan mahasiswa pecinta alam
yang sedang fokus pada ponsel pintar di
tangan salah satu dari mereka. Senja menyeruak ke dalam kerumunan dan ikut
melihat foto yang tengah dipertontonkan bak pertunjukan sirkus.
Lututnya seketika kehilangan daya untuk
menopang tubuhnya. Senja ambruk bersamaan dengan tatapan aneh para pendaki
asing. Tanpa mempedulikan apa pun, Senja roboh bagai pohon yang dihantam angin puting
beliung. Air mata meleleh dan membasahi kedua pipinya dengan tak sabar. Tangisnya
pecah melihat sosok anak laki-laki dari dalam ponsel pintar yang selama empat
bulan belakangan ini mendistraksi perhatiannya dari hidup yang membosankan
tanpa cinta.
Anak laki-laki itu sudah meninggal.
Anak laki-laki itu bukan sebulan sekali
berkunjung ke puncak gunung, melainkan dia tinggal di sana. Dia ada di sana
setiap saat. Dan Senja mampu melihat bahkan bercengkrama dengan sosoknya yang
mungkin hanyalah arwah.
Merasa bingung, para pendaki asing itu menenangkan
Senja dan memberinya minum. Setelah merasa lebih tenang dan meminum air pemberian
mereka, Senja memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu dari pendaki
asing. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Bayu.
“Kalau nggak keberatan, boleh saya lihat
Instagram-nya anak laki-laki tadi ?” Senja bertanya dengan sopan. Senja bukan tipe
orang yang betah memandangi layar ponsel berjam-jam dan membawanya kemana-mana
setiap saat seperti yang dilakukan oleh manusia milenial zaman sekarang, ponselnya
tergeletak dengan pasrah di meja belajar dan jarang disentuh. Dibuka hanya
untuk keperluan tugas dari dosennya di kampus.
“iya silakan.” Bayu mengoper ponselnya kepada
Senja.
Lamat-lamat Senja memperhatikan satu demi satu
foto yang ada di feed milik anak laki-laki yang menjadi temannya selama
empat bulan belakangan ini, tatapannya tertumbuk pada tulisan paling atas yang
mendeskripsikan nama dari pengguna akun tersebut.
ARKAREGA SAMANTA
Akhirnya dia memiliki nama. Arkarega Samanta.
Nama itu akan selalu Senja kenang di pikiran
serta hatinya.
Di feed Instagram-nya, Arka membagikan
fotonya yang sedang berada di padang bunga Edelweiss. Dia berada di gunung
ini. Sepertinya itu adalah foto terakhir
yang sengaja dia bagikan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Pada deskripsi foto, Arka menuliskan sebuah tulisan yang dia tulis menggunakan Bahasa
asing. Senja menekan kata terjemahkan di ujung paling bawah deskripsi.
Sampaikan pada ibuku bunga keabadian,
Edelweiss.
Sampaikan kepadanya bahwa semua ini bukanlah salahnya.
Petik satu Edelweiss dan berikan kepada ibuku.
Petik hati ibuku dan katakan bahwa aku merasa
terhormat dilahirkan oleh ibu sepertinya.
Aku hanya Lelah berada di tengah-tengah
keluarga yang pecah.
Aku lelah dan menyerah.
Ini bukan salahmu atau ayah, aku yang lemah.
Anakmu, Arkarega Samanta.
Senja mengembalikan ponsel pintar itu kepada
pemiliknya dengan air mata yang menetes tanpa mampu dia hentikan. Semuanya
terasa tak nyata dan seperti mimpi. Selama empat bulan dia hanya bermimpi dan
hari ini dia terbangun dari mimpi indahnya. Setelah berterima kasih kepada
Bayu, Senja berdiri dan menghampiri ayahnya, dia ingin memetik bunga Edelweiss
satu tangkai saja, namun ayahnya tidak setuju. Di alam, kita tak boleh
mengambil apa pun kecuali foto. Setelah perdebatan yang cukup sengit aantara ayah
dan anak, mata Senja tertuju pada satu tangkai Edelweiss yang terkapar tak berdaya di bawah sebuah pohon
besar. Dengan tergesa-gesa Senja berlari menghampiri bunga itu dan mengambilnya.
Dia memasukkan bunga itu ke dalam tas ranselnya tanpa sepengetahuan ayahnya.
Keesokan harinya, dengan bermodalkan akun
Instagram milik Arkarega, Senja mencari tahu alamat rumah Arka melalui
teman-teman yang sering membubuhkan komentar pada setiap postingan fotonya. Melalui
followers serta following-nya.
Setelaah bertanya dan menjelaskan maksud serta tujuan Senja ingin
mengunjungi rumah Arka, ada satu orang teman Arka yang berbaik hati menunjukkan
alamat rumah Arka. Tanpa menunggu lagi, Senja meluncur ke daerah Jakarta
Selatan, tempat dimana ibu dari Arkarega bersemayam.
Sangat bisa dipastikan bahwa ibu Arka akan
menangis sejadinya saat menerima surat yang sudah ditulis tangan oleh Senja. Gadis
itu menyadur unggahan foto terakhir Arka beserta deskripsinya. Tidak lupa dia
memberikan setangkai Edelweiss yang hampir layu untuk ibu Arka.
“Aku memberinya nama Arkarega, yang artinya
matahari merah.” Ujar ibu Arka seraya mengelus permukaan kertas yang berisi
tulisan terakhir dari anaknya.
Merasa takjub, Senja baru mengetahui arti nama
Arkarega adalah matahari merah. Senja memasang telinganya dengan baik dan terus
mendengarkan cerita ibu Arka dan masalah apa yang terjadi pada keluarganya
sampai mengakibatkan Arka memilih untuk mengakhiri hidupnya. Sejak Arka kecil,
ayah dan ibunya tak pernah akur. Arka tumbuh dengan cacian dan makian serta
barang-barang beterbangan di seluruh penjuru rumah. Rupanya hal itu menjadikan
mentalnya sakit dan menorehkan trauma yang cukup dalam pada kehidupan dewasanya.
Maka dari itu, dia memiliki kesulitan dalam bersosialisasi dengan orang lain. Temannya
sangat sedikit dan bisa dihitung jari. Saat masuk kuliah, Arka mulai mendapat
bebrapa teman baru yang menyenangkan, dia bahkan mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler Mahasiswa Pecinta Alam di kampusnya. Hal itu membuat ibu Arka
merasa lega karena anaknya mulai membuka diri. Ternyata perkiraannya meleset,
Arka bukan membaik, semuanya hanya topeng yang dikenakan untuk menyembunyikan
keterpurukannya dalam trauma dan depresi.
Bersamaan dengan Edelweiss yang telah
layu, satu nama ikut terukir dalam keabadian. Sesuai dengan namanya, Edelweiss,
bunga keabadian, yang di dalamnya terkandung hormon etilen yang
berfungsi agar bunganya tidak bisa gugur. Mungkin kamu tak memiliki hormon etilen
di dalam aliran darahmu, namun kebersamaan kita yang sangat singkat telah
mengajarkanku banyak hal. Sama halnya seperti Edelweiss yang pantang
dipetik, melupakanmu juga pantangan terbesar dalam hidupku.
Terima kasih sang matahari merah, Senja.
Cerpen ini ditulis di Depok, 12 Juni 2021
