Ayah
By Galindra Sisoka - Juni 11, 2021
Aroma sarkas yang keluar dari rongga mulutnya
tak pernah gagal membelokkan ruang dan waktu.
Samar terdengar rintihan dari kejauhan, duka dan lara
di persimpangan jalan.
Jika sang pengembara tahu jalan pulang,
rumah akan menjadi sesuatu hal yang lapang.
Hadirmu tiada ku mengerti,
walau seharusnya sejuk bak embun pagi.
Jika hanya membawa sengsara,
namun kenapa sosokmu seberagam cakrawala aksara ?
Jika nadimu masih berdetak, sudikah kau memahami apa
yang telah dilalui anak perempuanmu satu-satunya ini ?
Depok, 12 Juni 2021
Puisi untuk ayah.
0 komentar